Daihatsu Terios, Mobil Sahabat Petualang

16 Nov 2012

Indonesia itu indah kawan, setidaknya hal tersebut yang mengilhami sebuah perjalanan petualangan Terios 7 Wonders untuk mengeksplorasi keindahan alam Sumatera sekaligus melakukan ekspedisi ke tujuh spot produsen kopi Luwak yang sudah ternama hingga mancanegara. Mau tahu serunya perjalanan Perjalanan Daihatsu Terios 7 Wonders, simak terus cerita serunya…

3e9d870308eb163dbb398f14fceb0856_106

b7c5bb6a17b77632d09c73872a9d330c_108Sebuah perjalanan panjang pun dimulai, petualangan Terios 7 Wonders dimulai hari ini dengan disaksikan oleh jajaran management dan staf Astra Daihatsu Motor (10/10). Tim petualang yang terdiri dari 10 orang ini akan melibas keindahan alam pulau Sumatera dengan tiga unit Daihatsu Terios TX-AT (2 unit) dan Terios MT (1 unit).

Mau tahu kenapa dalam petualangan ini menggunakan Daihatsu Terios TX-AT dan Terios MT coba lihat saja spesifikasinya dibawah ini:

SPECIFICATION

TS

TX

A/T

M/T

A/T

M/T

DIMENSI
Panjang x Lebarx Tinggi keseluruhan

(mm)

4385×1695x1695

4425×1695x1740

Jarak sumbu roda

(mm)

2685

Jarak pijak roda depan/belakang

(mm)

1445/1460

Tinggi dari tanah

(mm)

200

BERAT
Berat kosong/Total Kendaraan

(kg)

1160×1615

1135×1590

1175×1590

1165×1590

KAPASITAS TEMPAT DUDUK

7

PERFORMA
Radius putar minimum

(m)

5.3

MESIN
Tipe

3SZ-VE DOHC VVT-i Berpendingin air

Kapasitas silinder

(cc)

1495

Jumlah katup

16

Diameter x langkah

(mm)

72.0 x 91.8

Tenaga maksimum

(ps/rpm)

109/6000

Torsi maksimum

(kg - Nm/rpm)

14.4/4.400

Sistem bahan bakar

EFI (Electronic Fuel Injection)

Jenis bahan bakar

Bensin Tanpa Timbal

Kapasitas tangki bahan bakar

(Liter)

45

TRANSMISI
Tipe

Otomatis,

4 kecepatan maju

Manual,

5 kecepatan maju

Otomatis,

4 kecepatan maju

Manual,

5 kecepatan maju

Perbandingan gigi

I: 2,731

I:3,769

I: 2,731

I: 3,796

II: 1,526

II:2,045

II: 1,526

II: 2,045

III: 1,000

III: 1,376

III: 1,000

III: 1,376

IV: 0,696

IV: 1,000

IV: 0,696

IV: 1,000

V: 0,838

V: 0,838

R: 2,290

R: 4,128

R: 2,290

R: 4,128

Rasio gigi akhir

5.857

5.571

5.857

5.571

SISTEM KEMUDI
Tipe

Rack & Finion dengan Electric Power Steering

REM
Depan / Belakang / Rem Parkir

cakram (disc) dengan booster drum,leading & trailing

SUSPENSI
Depan

MacPherson Strut tanpa per keong & stabilizer

Belakang

5-link, rigid-axle dengan per keong

BAN
Ukuran

215/65 R16

Tipe

Alloy Wheel

Dari sisi spesifikasi sudah pasti tidak perlu diragukan lagi Daihatsu Terios berbekal mesin 3SZ-VE DOHC VVT-i mumpuni untuk perjalanan petualangan Terios 7 Wonders yang menempuh jarak tak kurang dari 3.300 km dengan bermacam trek yang harus dilalui.

Mau tahu inovasi / fitur - fitur canggih yang semakin menambah performa Daihatsu Terios sehingga mampu melahap semua trek dalam petualangan ini. Berikut 4 fitur terbaru tsb diantaranya adalah:

VVT-i

(VVT-i) Variable Valve Timing Intelegent adalah adalah teknologi yang mengatur sudut camshaft secara dinamis agar dapat menyesuaikan dengan putaran mesin, sehingga meningkatkan tenaga mesin, hemat bahan bakar dan ramah lingkungan/emisi bersih

Ventilator Disc Brake

Ventilator Disc Brake adalah disc sebagai bagian dari sistem pengeraman mobil dengan bentuk seperti dua piringan cakram digabung jadi satu dan ditengahnya ada celah untuk mengalirkan udara panas dengan kelebihan mampu melepas energi panas lebih baik ketika terjadi pengereman sehingga performance rem tetap terjaga

Mac Pherson Struts

Mac Pherson Struts adalah Sebuah sistem suspensi yang menggabungkan koil spring dan shock absorber dan diikat dengan knuckle. Melikiki kelebihan jumlah part yang lebih sedikit dengan performance yang sebanding dengan suspensi yang lain.

TAF (Total Advance Function) Body

TAF (Total Advance Function) Body adalah teknologi keselamatan pasif pada konstruksi body mobil yang akan menyerap efek benturan pada saat terjadi tabrakan, sehingga aman bagi pengemudi dan penumpang di dalamnya

Pokoknya gak salah pilih deh, Daihatsu Terios memang cocok banget buat petualang sejati. Tapi bukan itu saja selain sisi spesifikasi (mesin) dan fitur barunya, tidak ada salahnya kita menengok sisi desain (interior & eksterior). Kesan pertama terlihat tangguh & gahar coba perhatikan saja FRONT GRILLE dengan design grille baru dengan balutan chrome membuat penampilan semakin stylish dan sporty. Pindah di bagian ruang kemudi, CENTER CLUSTER (TX), terkesan Sporty dan mewah dengan balutan aksen metal dan chrome. Belum lagi fitur STEERING WHEEL WITH AUDIO SWITCH (TX A/T) memberikan Kemudahan mengontrol audio player, hanya dengan sentuhan jari di kemudi Anda. Untuk lebih jelas berikut penampakannya:

Interior

INTEGRATED CD AUDIO (TX & TS A/T)

INTEGRATED CD AUDIO (TX & TS A/T)

Didesain menyatu dengan center cluster, begitu serasi, mewah dan berkelas

CENTER CLUSTER (TX)

CENTER CLUSTER (TX)

Sporty dan mewah dengan balutan aksen metal dan chrome

SHIFT KNOB WITH SHIFT LOCK (A/T)

SHIFT KNOB WITH SHIFT LOCK (A/T)

Desain sporty dan ergonomis, dilengkapi dengan Shift Lock (A/T), lebih aman saat parkir di jalan menanjak/menurun

STEERING WHEEL WITH AUDIO SWITCH (TX A/T)

STEERING WHEEL WITH AUDIO SWITCH (TX A/T)

Kemudahan mengontrol audio player, hanya dengan sentuhan jari di kemudiAnda.

METER COMBINATION

METER COMBINATION

Desain sporty dan mewah namun tetap mudah dibaca

Eksterior

in-1-rear-combination-lamp

REAL COMBINATION LAMP

Clear Lens Type, desain premium dan sporty

in-3-rear-bumper

REAR BUMPER

Desain bumper baru yang lebih kokoh dan sporty

in-2-stylish-alloy-wheel

STYLISH 16″ ALLOY WHEEL (TX)

Desain baru yang stylish dan trendy

in-5-front-bumper

FRONT BUMPER

Desain bumper baru yang lebih kokoh dan aerodinamis

in-4-projector-headlamp

PROJECTOR HEADLAMP (TX)

Desain sporty yang memberikan pencahayaan maksimal namun tidak menyilaukan

in-6-front-bumper

FRONT GRILLE

Design grille baru dengan balutan chrome membuat penampilan semakin stylish dan sporty

Daihatsu Terios sendiri saat ini mempunyai 6 varian warna yaitu Classic Silver Mettalic, Icy White, Midnight Black, Dark Grey Mettalic, Royal Red, dan terakhir Sand Gold . So, dengan spesifikasi yang memumpuni, fitur - fitur yang cangih, desain interior / eksterior yang stylish dan sporty dan 6 varian warna yang keren abis, tak salah bila Daihatsu Terios menjadi mobil impian kita semua. Berikut penampakan Daihatsu Terios dengan warna Classic Silver Mettalic;

e02bb5c8d1c4ffe221d8a90259df5510_classic-silver

Kembali ke topik petualangan Terios 7 Wonders, dengan mengusung misi utama ingin mengguggah mata dunia akan kekayaan alam indonesia khususnya pulau sumatera, tak kurang dari 3.300 km tim terios 7 wonders tempuh. Sepanjang rentang perjalanan mulai dari lampung hingga Sabang, terdapat tujuh spot produsen kopi yang akan menjadi bagian dari eksplorasi kekayaan alam dan budaya Indonesia selama perjalanan.

“Perjalanan Daihatsu Terios 7 Wonders yang akan memakan waktu hingga 14 hari ini, fokus pada eksplorasi keindahan alam Sumatra hingga titik nol kilometer di Sabang. Dalam perjalanan ini juga, Daihatsu beserta tim yang melakukan ekspedisi, akan singgah di tujuh lokasi produsen kopi Luwak yang sudah ternama hingga mancanegara. Selain merangkum semua keindahan alam yang tersaji sepanjang rute perjalanan, kami juga melakukan aktivitas CSR dengan meberikan bantuan kepada Posyandu binaan serta memberikan bantuan kepada UMKM (usaha mikro kecil dan menengah) diwilayah Bengkulu dan Medan. Dan perjalanan ini merupakan bentuk uji performa Daihatsu Terios dengan beragam medan jalan yang memang sesuai dengan peruntukan Daihatsu Terios sebagai SUV sejati, hal ini sejalan dengan kampanye kami, Daihatsu Terios, Sahabat Petualang,”ujar Amelia Tjandra Marketing Director PT ADM.

05b69281c607754680056e2f5f6832b8_1

START

239261d10924ab09c591b2716fcc118e_132Perjalananpetualangan Terios 7 Wonders sesungguhnya dimulai hari ini (10/10). Setelah dilepas di VLC serta melakukan persiapan, tepat pada pukul 23.00 WIB tim bergegas menuju penyeberangan Merak-Bakauheni.Kondisi laut yang bersahabat penyeberangan pun bisa di tempuh dalam waktu 3 jam, lumayan bisa dimanfaatkan untuk istirahatsejenak.

Kala fajar menyingsing Tim sampai di ujung pulau Sumatera. Kondisi jalan yang mulus merupakan sarana yang ideal untuk berakselerasi. Alhasil kecepatan maksimal 120 km/jam dapat diraih oleh Daihatsu Terios yang kami tunggangi. Sesampainya menjelang kota Lampung, lalu-lintas lumayan padat sehingga tim harus menurunkan kecepatan rata-rata hingga 40 km/jam.

Sesampainya di kota Lampung, gak ada salahnya sarapan pagi dulu nih, mengingat rentang perjalanan tidak kurang dari 3000 km yang baru dijalani tim Terios 7 Wonders 300 km.Setelah perut terisi, tim lanjutkan perjalanan dari kota Lampung bergerak menuju Liwa, Lampung Barat. Perjalanan menuju Liwa yang merupakan wilayah pegunungan ditempuh melalui kawasan Bukit Kemuning, dengan ragam jalan yang didominasi oleh tikungan pendek disertai oleh tanjakan terjal. Kondisi jalan inilah yang menuntut tim untuk pandai-pandai melakukan perpindahan transmisi. Beberapa kali shifter matik Terios AT berpindah dari D-3 ke 2. Sementara untuk yang manual dari 4 ke 3.

ad282ec0bffb13890b66c39e2d39707e_136Tepat pukul 17.00 WIB, tim Terios 7 Wonders sampai di kota Liwa disambut dengan udara yang sejuk, tim masih harus menuju target pemberhentian selanjutnya ke Danau Ranau yang masih tersisa jarak sekitar 25 km dari kota Liwa. Sesampainya di tepian Danau Ranau yang sudah gelap gulita, kami disambut oleh hawa dingin yang menusuk. Setelah beristirahat melepas lelah, Kopi Luwak khas Liwa menjadi santapan pertama kami di pagi buta ditemani oleh semilir angin yang enggan pergi.

Inilah kenikmatan kekayaan kopi Indonesia yang pertama kali dikecap oleh tim. Secangkir kopi panas berikut kudapan pagi, merupakan penyemangat kami tim Terios 7 Wonders untuk melanjutkan petualangan selanjutnya, mengeksplorasi penangkaran Luwak serta menghirup aroma kopi dari perkebunan kopi yang terletak tidak jauh dari Danau Ranau.

8a2e4477c1d1e0f96941321126a001f2_2

Liwa

4611d95888ff736aa4a25ff515c9a24e_145Sahabat Petualang, ketika kami sedang mengeksplorasi pengolahan kopi di Liwa. Kami bertemu dengan M. Khodis, salah seorang penyuluh pertanian yang memiliki pabrik pengolahan kopi. “Biji kopi yang diolah di sini berasal dari petani kopi di sekitar sini. Selain pengolahan cara lama kami mencoba kopi beraroma. Ada 2 macam yang sudah dikembangkan dan yaitu kopi beraroma ginseng dan kopi berorama pinang,” ujar Khodis.

Cara mengolah kopinya sama saja. Pertama biji kopi digrading dulu jadi 3 bagian sesuai ukuran. Makin besar biji kopi itu berarti makin baik kualitasnya. Kemudian biji kopi yang sudah terpisah sesuai kualitasnya dimasukkan ke mesin oven (sangrai) dan dicampur dengan potongan-potongan kecil pinang atau ginseng. Komposisi antara berapa banyak serpihan ginseng atau pinang kering dengan biji kopi yang disangrai sudah melalui beberapa kali ujicoba sehingga mendapatkan rasa yang pas.

Campuran biji kopi dan serpihan ginseng atau pinang di sangrai selama 1 - 2 jam dalam suhu 190 derajat celcius. Lamanya proses sangrai akan mempengaruhi warna kopi. Makin lama disangrai serbuk kopi makin berwarna kehitaman.Setelah disangrai, biji kopi diangin-anginkan sembari menghilangkan lapisan kulit arinya dalam sebuah wadah besar yang sudah dilubangi. Sambil diaduk-aduk lapisan kulit ari akan turun ke bawah. Setelah bersih biji kopi ini langsung digiling.

Serbuk kopi yang sudah jadi siap dikemas untuk dinikmati. Cara menyajikan kopi yang paling pas adalah memastikan air yang akan dicampur dengan kopi benar-benar mendidih. Setelah dituang di cangkir dan diaduk, diaduk kemudian biarkan dulu beberapa saat supaya butiran-butiran kasar kopi yang mengapung turun ke dasar cangkir.

Sejauh 509,4 kmperjalanan sudah tim Terios 7 Wonders tempuh, saatnya lepas lelah dengan tidur panjang.Dipagi hari sungguh menyegarkan suasana Danau Ranau , apalagi dengan di temani secangkir kopi panas yang beraroma khas ditemani sejuknya udara sekitar.Terlihat siluet Gunung Seminung jauh di seberang wisma kami bermalam.

Usai menikmati sarapan pagi di hotel kami bergegas menuju produsen kopi Luwak - Kopi yang cukup terkenal di seluruh dunia. Tak cuma karena rasanya yang nikmat tapi harganya pun lumayan mahal. Harga per kilo berkisar antara Rp 400 ribuan sampai jutaan, ehmm mahal juga ya.. . Jadi penasaran mengapa bisa semahal itu? Kami akhirnya mendapatkan jawaban ketika mengunjungi tempat penghasil kopi Luwak yang lokasinya tak jauh dari danau Ranau.

Ditemani Hidayat atau kerap disapa Sangkut - pemilik kebun kopi seluas 5.000 hektar lebih, kami dijelaskan bagaimana ia mampu memproduksi kopi luwak. Ketika tim menyambangi rumahnya di tepi jalan utama Liwa - Ranau tenyata di belakangnya ia memiliki satu ruangan khusus yang berisi banyak kandang kecil. Kadang inilah tempat dimana Musang Luwak dipelihara. Namun saat ini hanya 5 saja yang ada isinya. Isinya adalah Musang Luwak (Paradoxurus hermaphroditus).

f22695fcc2b7a3f11b827da182eecead_161Ada 2 jenis Musang yang dimiliki Sangkut yaitu Musang Bulan dengan ciri khas ujung ekornya berwarna putih (lebih agresif dan susah jinak) dengan bulu berwarna kecoklatan serta Musang Pandan yang bulunya berwarna kehitaman. Menurut Sangkut aroma wangi khas yang dikeluarkan Musang Pandan ternyata menghasilkan kopi yang lebih nikmat dari Musang Bulan. Kopi Musang Pandan memiliki penggemar yang lumayan banyak.

Proses pembuatan kopi luwak, sesudah dipetik biji kopi disortir dulu. Pertama-tama dicari yang warnanya merah rata dan bentuknya bulat. Kemudian direndam di ember berisi air. Biji yang terapung disortir. Yang tenggelam dikumpulkan untuk diberikan pada Musang Luwak. Musang Luwak ini nanti hanya memilih biji kopi yang terbaik untuk makanannya.

Biji kopi yang dimakan ini selanjutnya terfermentasi dan keluar jadi kotoran berwujud biji kopi. Kotoran ini dikumpulkan dan dipisahkan agar tak lagi berbentuk gumpalan. Setelah itu baru dijemur hingga kering. Barulah biji kopi yang sudah bersih dan kering dibawa ke pabrik pengolahan kopi. Inilah alasannya mengapa Kopi Luwak mahal sekali. Selain karena proses pembuatannya lumayan ribet, hanya kopi terbaik saja yang dimakan Luwak.

Kami ditemui Pak Khodis di lokasi pengolahan kopi miliknya. Cukup panjang juga penjelasan pria kelahiran Salatiga ini mengenai perkopian. Karena harus bergerak lagi menuju kota Lahat maka seluruh tim pun bergegas.
Total jarak Danau Ranau hingga Lahat 309,4 km. Kami akhirnya merapat di kota Lahat malam hari sekitar pukul 20.00 WIB. Rombongan disambut langsung orang nomor satu di Lahat.

6074fe31a3da5c30335bd678025d826e_3

Lahat

6442e7a9aca6489da1cf47063e5d0e3b_170Sahabat Petualang, dalam kunjungan tim 7 Wonders di Kabupaten Lahat sungguh punya makna tersendiri. Bagaimana tidak? Orang nomor satu di Lahat, H Saifudin Aswari Riva’i SE segera menemui tim 7 Wonders begitu tahu kami sedang menyambangi Pasar Lama kota Lahat. Tak ada suasana formal.

Di salah satu ujung gang di pinggir jalan kami sempatkan untuk ngobrol-ngobrol sembari menikmati kopi khas Lahat. “Lewat secangkir kopi ini, saya mewakili masyarakat Lahat menawarkan persahabatan yang tulus. Saya sangat bangga dan gembira Lahat jadi salah satu tujuan tim 7 Wonders,” lanjut bupati yang hobi sekali melahap trek off-road penuh tantangan.

Budaya minum kopi sendiri sudah berlangsung sejak dahulu. Di kabupaten Lahat banyak terdapat kebun kopi Hanya saja karena pemasarannya dikuasai tengkulak maka harga beli kopi dari petani kerap dipermainkan. Sehingga banyak yang mulai meninggalkan kebun kopi. Makanya perjalanan 7 Wonders Terios - Sumatera Coffee Paradise diharapkan bisa menggairahkan kembali para petani kopi di Lahat untuk mengolah kebun kopi yang lama ditinggalkan.

Sahabat Petualang - Perjalanan tim 7 Wonders Terios dimulai sesudah santap siang bersama bupati Lahat H Saifudin Aswari Riva’i SE di hotel Grand Zuri, satu-satunya hotel berbintang yang akan segera diresmikan kami segera bergerak menuju persinggahan berikutnya di kota Pagaralam.

Jarum jam menunjukkan pukul 12.40 WIB saat tim 7 Wonders keluar dari halaman hotel Grand Zuri. Jalanan menuju kota Pagaralam agak sedikit bergelombang. Sekitar 20 menit keluar dari kota Lahat jalanan mulai berkelok-kelok. Memasuki perbatasan kota Pagaralam, kelokan jalanannya disertai dengan tanjakan terjal.

b10ffd18924c7e37f1b0d78cebd5602b_177Untuk mengatasi handycap ini, shifter matik Terios pun berpindah-pindah. Ketika tanjakan lumayan terjal agar akselerasi tetap terjaga posisi shifter bergeser ke L. Begitu sudah agak landai bergeser lagi ke 2 , D-3 dan juga D. Walaupun penuh dengan penumpang dan barang bawaan, ternyata ketiga terios yang terdiri dari 2 tipe matik dan 1 manual berhasil mengatasi tantangan jalanan ini. Mantap…

Letak pagaralam yang berada kurang lebih 1.000 m dpl di atas permukaan laut membuat udara lumayan sejuk. Di kanan kiri jalan selain teh dan kopi juga ada persawahan yang lumayan luas. Selain surganya kopi dan teh, karena kesuburan tanahnya pagaralam memang sebagai salah satu lumbung padi di Sumatera Selatan.

6074fe31a3da5c30335bd678025d826e_4

PagarAlam

Tak terasa, kami sudah sampai di persimpangan jalan menuju kota PagarAlam, tapi kami putuskan untuk segera menuju lokasi penginapan di kaki gunung Dempo. Usai check in di Villa dan Hotel Gunung Gare, karena hari masih sore (sekitar pukul 15.00 WIB), kami putuskan menikmati keindahan alam Pagaralam sembari berkeliling untuk mecari perkebunan kopi dan juga tempat pengolahannya. Karena menurut berbagai informasi yang diperoleh Pagaralam adalah daerah penghasil kopi terbesar di Sumatera.

cc506c4abce757df2ddecf2e1b5f1476_190Untuk menemukan kebun kopi di dekat lokasi menginap ternyata tidak sulit. Tapi untuk menemui tempat pengolahan biji kopi, baru bisa di dapatkan di salah satu toko souvenir khas Pagaralam di pusat kota. Sayang karena mesin gilingnya sedang rusak terpaksa proses penggilingan kopi dihentikan.

Sahabat Petualang, Hujan turun lumayan deras ketika kami masih beristirahat di hotel di kaki Gunung Dempo. Untung hujannya tak lama dan cepat reda. Sehingga ketika kami bersiap untuk meneruskan perjalanan kami tak perlu takut basah kena air hujan ketika harus mengatur barang bawaan kami di Terios.

Dari hotel kami putuskan untuk meneruskan eksplorasi kopi Pagaralam sebelum bergerak ke Kabupaten Empat Lawang. Sembari menunggu kabar dari toko Kirana yang memiliki mesin pengolah kopi, kami mencari petani kopi di Pagaralam untuk mengobrol.

Ditemani Arkadius atau kerap disapa Diok, kami bertemu seorang kakek berumur 75 tahun yang masih ada hubungan kekerabatan dengan Diok. Sambil melakukan sesi pemotretan dan pengambilan dokumentasi video kami mengobrol mengenai kopi Pagaralam. Kakek Ambyan ternyata sudah menjadi petani kopi selama 50 tahun.

Ketika umur masih muda ia sempat merantau ke Palembang sebelum akhirnya kembali ke kampung halamannya di Pagaralam dan meneruskan merawat kebun kopi. Dan itu bertahan hingga sekarang di tengah pasang-surutnya harga kopi.

Di tengah keasyikan tim 7 Wonders Terios menjajal jalanan light off-road, ada kabar bahwa mesin pengolah kopi sudah berfungsi kembali. Tanpa membuang waktu kami segera bergerak menuju lokasi di Pusat Kota Pagaralam untuk menyaksikan sendiri seperti apa pengolahan kopi di Pagaralam.

Ternyata sistem pengolahannya mirip dengan sentra kopi di Liwa dan Lahat nyaris sama saja. Perbedaannya adalah cara me-roaster biji kopi. Walaupun di Pagaralam - drum untuk me-roaster biji kopi sama dengan yang di Lahat tetapi untuk memutarnya sudah menggunakan mesin. Sementara untuk proses penggilingannya sama yaitu memakai 2 mesin. Pertama biji kopi dihaluskan jadi butiran kasar. Kemudian dipindah ke mesin satunya untuk dibuat makin lembut.

eac1b0b9a43ee188c4f371dbc20266ad_180 06304204443e2102291139a5d9489070_181

Seperti halnya proses pengolahan padi sebelum menjadi beras siap dikonsumsi maka pengolahan buah kopi jadi biji kopi juga menarik perhatian kami. Diok bilang jika kakaknya Nando punya mesin pengolah buah kopi jadi biji kopi. Mesin Engelberg Huller bikinan USA ini berdimensi besar dan digerakkan dengan diesel.

Sembari mempraktekkan sistem kerja mesin pengolah buah kopi Engelberg Huller, Diok menerangkan trik untuk mengetahui buah kopi yang dijemur sudah kering atau belum. “Coba ambil segengam lalu goyang-goyang. Nah, kalau di dalam buah kopi yang sudah dijemur ada bunyinya berarti biji di dalamnya sudah terpisah dengan dagingnya. Baru ini bisa diolah jadi biji kopi,” celoteh penyuka kendaraan 4×4 ini.

26a19bcc866c28292777f27b03fe5a8b_5

Empat Lawang

Sahabat Petualang, usai santap siang di pinggir Sungai, tim 7 Wonders langsung mengarahkan tujuan menuju Kabupaten Empat Lawang (Tebing Tinggi). Daerah hasil pemekaran Kabupaten Lahat ini memiliki ikon Biji Kopi. “Kopi adalah salah satu komoditas andalan kabupaten Empat Lawang,” bilang H. Budi Antoni Aljufri - Bupati Empat Lawang ketika mengobrol dengan tim 7 Wonders beberapa waktu lalu, sebelum ia berangkat menunaikan ibadah haji 13 oktober 2012.

36aac9c897d4eb5aa6134af059aebfc6_183 ec4d1cbda2088ae7fa0cf556ff6313ad_184

Jalanan ketika keluar dari kota Pagaralam menuju Tebing Tinggi via desa Jarai - Pendopo sebenarnya cukup baik. Hanya saja tidak begitu lebar dan rutenya berkelok-kelok. Butuh kehati-hatian agar tak terjadi kecelakaan. Kondisi jalanan sendiri relatif sepi dengan pemandangan hutan di kanan dan kirinya. Karena kecepatan yang bisa diraih tak bisa terlalu kencang, maka waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan jarak tempuh kurang lebih 121,6 km sekitar 3 jam.

Sesuai pesan Budi Antoni sebelum berangkat ke Mekkah melalui BBM (black berry messenger), maka tim 7 Wonders langsung menuju rumah dinas bupati Empat Lawang. “Mohon maaf tidak bisa menemani. Silahkan bermalam di Rumah Dinas - Puri Emass. Nanti ada staff yang menemani dan silahkan berkoordinasi,” begitu pesannya. Wah… mantap Pak Bupati dan terima kasih banyak sebelumnya. Dan semoga bisa menjalankan ibadah haji dengan khusyuk.

Sampai di Puri Emass sekitar pukul 15.30 WIB, dua orang staff bupati Empat Lawang Rudianto - Kepala Dinas Perkebunan dan Joko sudah menunggu. Sebenarnya David Aljufri - ketua DPRD Kabupaten Empat Lawang yang juga adik kandung Budi Antoni akan menemani namun usai mengantar sang kakak berangkat haji ke Palembang ada acara mendadak yang tak bisa ditinggal.

Tak jauh dari rumah dinas bupati, kami diajak bertemu Pak Anang Zairi - seorang pemilik pengolahan kopi. “Kopi di Empat Lawang ini berbeda lo. Ini merupakan hasil percampuran Arabica dan Robusta. Wujud aslinya Robusta tapi aromanya Arabica,” jelas Anang. Di rumah Anang, sistem pengolahan kopi sudah tertata dengan rapi. Dan tak hanya kopi saja tapi beberapa panganan ringan dari pisang, singkong juga diproduksi. Malah tak hanya itu madu hutan pun juga diproduksi di sini.

Sahabat Petualang - Aktivitas pagi di Kabupaten Empat Lawang kami mulai sejak pukul 6 Pagi. Terima kasih banyak buat Bupati Empat Lawang - Budi Antoni yang sudah mengijinkan rombongan 7 Wonders di Puri Emass. Sehingga kami tak perlu repot lagi mencari penginapan di kota kabupaten hari pemekaran ini. Karena tergolong baru maka mencari penginapan di daerah ini terpaksa tak banyak pilihan.

Pak Sara Rudianto - Kepala Dinas Pertanian Peternakan Perikanan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Empat Lawang kembali menyambangi kami di Puri Emass sekitar pukul 08.000 WIB. Rencananya ia akan menemani tim 7 Wonders untuk menguak lebih dalam lagi soal perkopian yang dimiliki oleh daerah ini.

Kabupaten yang satu-satunya memakai biji kopi sebagai maskot daerahnya ini memang mempunyai tanaman kopi yang lumayan produktif. Seperti yang diungkapkan oleh Anang hampir di semua tempat di daerah Empat Lawang memiliki kebun kopi yang hasilnya dapat diandalkan. Malah sebagian besar hasil panennya langsung mengalir keluar dari daerah Empat Lawang dan diberi cap atau diaku kopi daerah lain.

Ada yang hal unik yang kami temui selain biji kopi dijadikan maskot, ternyata seragam batik yang dipakai seluruh pegawai di pemerintahan setiap Kamis juga memakai motif biji kopi. “Kami juga sedang berusaha mewujudkan showroom khusus perkopian. Kopi yang dalam bahasa daerah Palembang disebut Kawo ini benar-benar dimanfaatkan semaksimal mungkin.

Setelah menikmati berbagai kerajinan di showroom kawo yang berada persis di depan Puri Emass ditemani 2 orang staff Rudianto tim 7 Wonders segera bergerak lagi menuju kebon kopi di daerah Talang Padang. Kami bertemu dengan Makmur salah satu petani kopi di daerah ini. Sebenarnya musim panen kopi telah usai (biasanya kopi dipanen di bulan 2 hingga 6). Tapi usai panen masih ada panen susulan tapi jumlahnya tak banyak.

Seperti yang pernah diungkapkan oleh Aswari- Bupati Lahat ketika kami mampir di daerahnya sebelum tim 7 Wonders sampai di Empat Lawang bahwa petani kopi sangat tergantung dari tengkulak, demikianlah yang terjadi di lapangan. Hasil panen kebon kopi Makmur sudah pasti ada yang menampung tapi harganya juga tak stabil. Jadi yang menikmati hasil lebih banyak adalah para tengkulak. Semestinya memang keberpihakan kepada petani kopi jadi perhatian semua kalangan termasuk pemerintah. Supaya petani kopi bisa menikmati hasil jerih payahnya.

26a19bcc866c28292777f27b03fe5a8b_6

Curup -Kepahiang

Petualangan seru bersama 3 Daihatsu Terios kembali dilakukan. Dari Desa Talang Padang rombongan bergerak menuju ke Curup - salah satu sentra penghasil kopi di daerah Bengkulu melalui Kepahiang. Jalanan berkelok-kelok naik dan turun membuat kami seolah sedang menari bersama Terios. Jalanannya relatif sepi namun sempit. Pemandangan alamnya sungguh menyejukkan mata.

9d9ec21e9535e355764e1a2ff43a7a61_200 d97e6d82016b7aca750ca6c7087e1167_204

Mesin berkapasitas 1.500 cc yang membekali Terios ternyata masih cukup andal. Pun demikian dengan suspensinya. Beberapa kali Terios kejeblos di lubang jalan, namun tak ada masalah berarti. Akselerasi di tanjakan maupun ketika menyalip kendaraan di depannya baik yang memakai girboks matik maupun manual tetap terasa bertenaga.

Tetapi lagi-lagi, pemakai Terios harus jangan segan memindahkan tuas dari D ke D-3 maupun 2. Bahkan di tanjakan yang terjal agar tak ngempos tenaganya perlu dipindah lagi ke posisi L. Tanjakan dan kelok-kelokan ini ternyata terus mewarnai sepanjang jalan sebelum tim 7 Wonders memasuki kota Bengkulu. Kami akhirnya tiba di Bengkulu sekitar pukul 18.30 WIB

Sahabat Petualang, tak seperti perjalanan sebelumnya yang selalu berpindah penginapan, ketika sampai di Bengkulu tim 7 Wonders memutuskan untuk beristarahat agak lama. Mengingat rute Bengkulu - Bukittinggi melalui Padang akan kami tempuh secara langsung. Selain itu kami juga akan mengunjungi acara CSR berupa penyerahan bantuan untuk Posyandu dan juga UKM.

Lima Posyandu yang menerima bantuan adalah Anak Bangsa, Mekar Sari, Damai, Flamboyan dan Candra. Sedangkan UMKM yang mendapat bantuan adalah Tiara, Ikan Pais “Ibu Jumi”, Jepara Maju, Keripik Ikan EZ dan Kopi Bubuk Mandela.

520110a2cbc747b5a56041ff2b839404_207 04dda7bb47ec99fb62a45a15e0e832fa_208

Acara CSR sendiri dipusatkan di main dealer Daihatsu jalan S Parman. Kegiatan CSR ini dihadiri pula oleh sejumlah pejabat Pemkot Bengkulu antara lain Walikota Bengkulu : Bp. H. Ahmad Kanedi, SH, Kepala Dinas UKM Kota Bengkulu: H. Sudarto, Kepala Dinas Kesehatan Kota Bengkulu: Drg. H. Mixon Syahbudin, Ketua Penggerak PKK: Ibu. H. Armelly. Sedangkan dari Daihatsu adalah Div Head Corporate IT: Akmal Kusumajaya dan CEO Tunas DHT : Bpk Zainudin.

Sayang sekali begitu selesai makan hujan lebat turun membasahi Bengkulu. Karena mendung dan basah maka sesi pengambilan gambar diputuskan menunggu hujan reda.Pukul 16.00 WIB begitu hujan selesai dan sinar matahari menyeruak dari awan maka sesi pengambilan gambar segera dimulai. Ternyata sinar matahari kurang bersahabat. Sinar terangnya hanya sebentar suasana langsung kembali mendung. Padahal masih ada beberapa obyek wisata sejarah yang akan disambangi.

Paling dekat dari lokasi kami mengambil gambar adalah obyek wisata rumah pribadi Ibu Fatmawati Soekarno Putri. Letaknya di jalan Fatmawati Bengkulu.Karena sudah tutup kami hanya sebentar saja mampir. Perjalanan langsung dilanjutkan ke rumah pengasingan Bung Karno di sekitar 1940-an, sayang sekali juga sudah tutup sehingga tak bisa masuk ke dalam rumahnya.

Sahabat Petualang - Etape dari Bengkulu menuju Bukittinggi melalui Muko-Muko Padang sudah kami prediksi bakal menguji fisik dan stamina. Baik anggota tim 7 Wonders maupun Tiga Daihatsu Terios yang dipakai. Rute ini sengaja kami pilih karena semenjak dari Jakarta hingga ke Bengkulu rute yang kami lewati lebih banyak melewati perbukitan. Saatnya menjajal jalanan di jalur pantai barat trans Sumatera.

3205b2894880b00b7b72400433fbd2cc_215 7e3bd3dc3db9d015bce4c483f5fdcca3_214

Petualangan kami melalui rute pantai barat memang terasa berbeda. Kalau sebelumnya didominasi pegunungan dan hutan, kini lebih banyak menikmati pemandangan pantai. Selain cuaca panasnya lumayan menyengat berkisar 35 derajat Celcius, tikungan-tikungan yang ada juga lebih tajam. Sementara karakter tanjakan dan turunannya kurang lebih sama dengan jalur sebelumnya.

7f6afffeaf0b0ac003b5ac5c4c7073dc_217Mestinya jalur lintas barat juga relatif sepi bisa membuat perjalanan ini lebih cepat. Kami keluar dari hotel di Bengkulu sekitar pukul 7 pagi kurang. Kami harus bergegas karena tak ingin sampai di Bukittinggi terlalu malam. Ternyata kami baru bisa merapat di tugu Jam Gadang- Bukittinggi tepat pukul 12 malam. Total waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan jarak sejauh 617 Km adalah 18 jam.

Perfoma 3 Terios yang kami bawa ternyata masih tetap mantap. Walaupun kami “siksa” untuk melahap rute yang dilalui, semua berhasil diatasi dengan sempurna. Semetara kondisi anggota tim 7 Wonders sendiri akibat perubahan suhu yang lumayan cepat berubah-ubah dan juga kurangnya istirahat membuat sebagian orang mulai teserang flu. Tapi sejauh ini semua masih tetap oke dan semangat.

8e4a13e3e2b992f0521c387809709ab8_7

Madailing Natal

Sahabat Petualang, usai beristirahat semalam petualangan bersama 3 Terios kami lanjutkan. Tujuan kami selanjutnya adalah mengeksplor kopi yang dihasilkan dari desa di Madailing Natal. Perjalanan dari lokasi kami menginap di dekat Danau Maninjau terpaksa agak siang baru dilakukan. Waktu tempuh Bengkulu - Bukittinggi selama 18 jam nonstop cukup menyedot energi sebagian anggota tim Terios 7 Wonders.

Bahkan sebagian anggota tim sudah terkena gejala flu dan batuk. Penyebabnya apalagi kalau bukan kelelahan akibat perjalanan panjang. Dengan stamina terkuras dan kondisi tubuh menurun tentu memudahkan virus penyakit hinggap di tubuh manusia.

Kota Bukittinggi yang juga disebut kota Seribu Ngarai memang punya keindahan alam yang memesona. Kami sempat berfoto di Ngarai Maninjau. Setelah itu perjalanan segera kami lanjutkan. Tujuan kami adalah melihat pengolahan dan perkebunan kopi rakyat di Mandailing (Mandheling) Natal. Sahabat kami Lelo Andhika Syahna sudah menunggu di daerah Pasaman bersama Daihatsu Taft pikapnya.

Begitu sampai di Pasaman Lelo segera menyambut tim 7 Wonders dan langsung mengajak untuk bergerak menuju Desa Sambang Banyak Jae Ulu Pungud. “Di sana masih banyak kebun kopinya Bang. Umur kebun kopinya juga sudah puluhan tahun,” celotehnya. Jika menilik sejarah kopi Arabica pertama kali masuk Indonesia pada 1699 oleh Belanda dan ditanam di daerah Mandheling Natal.

04a230906560e52df1ed52c290d29b79_226 496f7fbb1554c11d80de23d280c53bf0_224 b585aa392054c93ee1b2b0861b05510a_225

Dalam sejarah perkopian Indonesia desa yang jadi pusat kopi Arabica pertama kali di tanam adalah Desa Pakantan - Mandheling Natal. Nama Desa Simpang Banyak Jae Ulu Pulud memang tidak disebutkan. Tapi bisa jadi ini juga salah satu pusatnya. Mengingat masih dalam satu wilayah dan juga berada di ketinggian 1.200 m dpl.

Ternyata dari pertigaan jalan raya Pasaman, kami harus menempuh perjalanan kurang lebih 25 Km dan masuk kembali di arah pedalaman. Jalannya beraspal namun lumayan sempit. Kalau berpapasan harus berjalan pelan agar ban tak kejeblos dengan tanah.

Desa yang berada di lembah di antara dua bukit ini seperti desa yang hilang. Jika jalanan yang dilalui bukan aspal tapi jalan tanah pasti akan terasa sekali suasana jauh dari peradaban. Apalagi semakin masuk ke dalam menuju Desa Ulu Pungud sinyal handphone (HP) langsung hilang juga. Namun jadi agak kontras ketika melihat rumah dengan dinding kayu namun punya antena parabola.

Selanjutnya Makmur bercerita kopi yang ada di desanya sudah berusia puluhan tahun. “Mungkin malah ratusan tahun. Pohon ini diwariskan turun temurun. Ada 2 jenis di sini. Paling banyak kopi jenis Arabica, baru kemudian Robusta,” perinci Makmur. Pantas saja ketika melewati hutan sebelum sampai Desa Ulu Pungud, melalui radio komunikasi Lelo pemandu kami bilang jika di hutan itu terdapat banyak pohon kopi.

Sahabat Petualang - Selain rute Bengkulu - Bukittinggi, rute Mandailing Natal - Medan juga bakal menguras seluruh energi tim 7 Wonders. Dengan istirahat yang minim sementara jarak tempuhnya lumayan jauh sekitar 764 km serta kondisi jalanan yang tak bisa diprediksikan butuh konsentrasi dalam mengendalikan Terios.

Kami memulai perjalanan kami dari penginapan di Mandailing Natal tepat pukul 08.00 pagi. Cuaca yang cukup cerah membuat perjalanan kali ini terasa lebih menyenangkan. Apalagi sehari sebelumnya tanpa sengaja kami melalui pengalaman seru dan menyenangkan yaitu menikmati rute light off-road ketika mengeksplorasi kebun kopi di Desa Sambang Banyak Jae Ulu Pungud - Mandailing Natal.

Karena lumayan jauh jarak perjalanan hari ini, maka diputuskan tak banyak melakukan kegiatan. Tim 7 Wonders fokus untuk segera sampai di Medan karena keesokan harinya akan ada aktivitas Corporate Social Responsibility (CSR). Ternyata cuaca cerah tak berlangsung lama, menjelang sholat Jumat, mendung pun datang. Air deras dari langit segera tercurah.

Jalanan sepanjang Mandailing Natal - Tarutung kondisinya tak stabil. Sebagian mulus sebagian lagi rusak parah karena perbaikan jalan yang belum juga selesai. Bekas jembatan yang putus karena banjir bandang sudah diperbaiki.

91872b55993f4bb77805fe829fe4e825_219 d504c5c6e4d737430dda9fc03cf4d045_220 736ad88ee2a2afdf2a1e8db24a36b6b2_222

Kerusakan jalan ini membuat perjalanan agak terhambat. Jalanan tanah berbatu lagi-lagi menguji ketangguhan suspensi Terios. Jujur saja kami terkejut dengan ketangguhan suspensi Terios. Selama dalam perjalanan meskipun harus kami “hajar” di jalanan jelek ternyata suspensi Terios masih oke.

Walaupun kami berhati-hati, ternyata kecelakaan tak bisa kami hindari. Salah satu Terios yang kami kendarai tiba-tiba slip di salah satu tikungan menjelang Tarutung. Padahal saat itu sedang tidak ngebut. Stir Terios tak mau belok dan meluncur lurus dan berhenti setelah menyenggol semak belukar. Semua rombongan berhenti dan langsung melakukan evakuasi di tengah hujan turun. Kami sudah siap dengan peralatan recovery yaitu strap (tali) untuk menarik mobil. Tak sampai 15 menit, Terios pun kembali ke jalan raya. Cek sana cek sini tidak ada permasalahan berarti.

Terima kasih Tuhan kami masih dalam lindunganMu! Segera kami melanjutkan perjalanan lagi. Di Tarutung kami singgah mengisi perut sembari memulihkan stamina. Tak jauh dari Tarutung ketika kami berencana menuju Medan tiba-tiba melalui radio komunikasi salah satu Terios tim 7 Wonders mengeluh jika rem-nya sedikit bermasalah.

Kami segera berhenti, dan melakukan pengecekan. Ternyata penyebabnya karena beberapa kali melewati kubangan lumpur dan air maka disc brake basah sehingga pengereman tak seimbang. Setelah rem kami panasi dengan cara menjalankan mobil lalu direm bersamaan menginjak gas selama beberapa kali gejala yang dikeluhkan hilang.

Sahabat Petualang - Perjalanan panjang 7 Wonders sudah mencapai separuh lebih dari rute yang direncanakan ketika kami sudah berada di Medan pukul 22.00 WIB. Selain untuk memulihkan stamina selama 2 malam di Medan kami juga melakukan kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR). Program ini disinergikan dengan program CSR PT. Astra Daihatsu Motor (ADM).

Untuk di Medan acara simbolis penyerahan bantuan kepada 2 Posyandu dan 5 UMKM dilakukan di dealer Daihatsu, Jalan Sisingamangaraja No. 170, Medan. Kedua Posyandu Binaan yaitu Posyandu Kenanga 1 dan Mawar XII. Sedangkan UMKM yang mendapat bantuan adalah Wolken (pembuat bantal+guling), Keripik Pisang Bu Nur, Keripik Cap Merak, Berkat Rahmat dan juga Sirup Markisa Brastagi Bee. Total bantuan program ini nilainya mencapai lebih dari Rp 200 juta.

248636ef479e5a00076ad1c99bf0918c_233 47220c63514494daf2e7b6066eada45d_234

Selain aksi sosial, di Medan kami juga melakukan pengecekan dan perbaikan pada 3 Terios yang menemani perjalanan 7 Wonders. Setelah melewati berbagai rute lumayan berat dan adanya sedikit kendala yang dialami salah satu Terios, mengembalikan kondisi mobil jadi prima lagi cukup penting. Mengingat rute kami berikutnya di provinsi Aceh juga penuh tantangan.

Sahabat Petualang - Perjalanan tim 7 Wonders kini mulai memasuki etape terakhir yaitu Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Seusai check out dari Hotel Santika Medan - tepat pukul 13.00 WIB, tiga Terios pun segera bergerak menuju provinsi Serambi Mekkah.

Perjalanan kali ini terasa agak berbeda karena ada tambahan anggota tim baru yaitu Rokky Irvayandi dari PT Astra Daihatsu Motor (ADM) Head Office, Jakarta. Welcome a board Bro! Jika sebelumnya Terios berisi 10 orang kali ini menjadi 11 orang.

Rute perjalanan dari Medan menuju Langsa lumayan lancar. Kondisi jalan raya juga lumayan bagus dan cenderung flat. Meskipun di beberapa ruas jalan ada perbaikan dan pelebaran tapi tak sampai menyebabkan kemacetan. Jarak sekitar 200 km pun tak terasa jauh. Kondisi aspal jalan memasuki provinsi Aceh juga lumayan mulus.

Kami masuk kota Sabang sekitar pukul 18.30 WIB. Saatnya makan malam,untuk mendapatkan suasana yang khas Aceh kami sempatkan minum kopi dan makan malam di dekat alun-alun Langsa. Ketika menikmati hidangan sate matang dan martabak Aceh, dr. Marlunglung Purba atau biasa disapa Lung Lung ikut bergabung.

Dokter muda asal Medan ini bertugas di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Langsa. Wah kebetulan! Salah satu personil 7 Wonders menderita sakit batuk yang selama di perjalanan. Dr. Lung Lung pun mengajak Toni untuk diperiksa ke RSUD. Setelah diperiksa akhirnya Toni mendapatkan suntikan dan resep obat.

af1207e32c02705effabe40332220717_8

Takengon

Sahabat Petualang - Kota Takengon adalah persinggahan terakhir tim 7 Wonders dalam mengeksplorasi 7 tempat penghasil kopi di Pulau Sumatera. Sepanjang perjalanan ini sudah ada 6 tempat yang kami kunjungi yaitu Liwa (Lampung), Lahat, Pagar Alam, Empat Lawang, Curup -Kepahiang, Mandailing Natal dan sekarang giliran Takengon.

Kami berangkat dari Langsa ketika jam menunjukkan pukul 7 pagi. Banyak agenda yang kami rencanakan makanya perjalanan harus dirancang seefektif mungkin. Supaya tak banyak waktu yang terbuang. Mengingat jarak antara Langsa - Takengon sendiri juga cukup jauh sekitar 334,6 km.

Perjalanan cukup lancar selain lalu lintas tak terlalu padat kondisi jalan raya juga cukup bagus. Sekitar pukul 11 siang kami sudah sampai di Bireuen. Kota yang dulu kerap jadi ajang pertempuran antara GAM dengan aparat keamanan Indonesia. Suasana kota Bireuen dulu jelas jauh berbeda dengan sekarang. Suasananya aman dan damai.

Rute Bireuen - Takengon lebih banyak melewati perbukitan yang jauh dari pemukiman. Di daerah Cot Panglima pemandangannya cukup indah. Meskipun proyek pengerjaan jalan masih belum selesai. Jalan ini mengikis sebagian bukit dan dibuat lebih lebar. Ini penting karena di beberapa bagian terjadi kelongsoran.

Menjelang masuk Takengon, komunitas jip dari Gayo sudah menunggu. Mereka siap mengawal 3 Terios mencicipi trek bukit Oregon. Trek light off-road dengan pemandangan yang indah. Kemampuan Terios lagi-lagi diuji di sini. Kenyamanan dan juga ketangguhan kaki-kaki Terios terbukti andal. Melewati trek tanah berbatu dengan beragam kontur tak ada kendala berarti.

5c92ad9d7bf894d13f9c4b69e3ded648_245 ab77ffeb676b767561da4c692b47e643_248

Sampai di ujung terakhir trek Oregon kami menyempatkan berhenti sejenak. Selain menikmati indahnya pemandangan kota Takengon dan Danau Laut Tawar, bersama dengn penyuka 4×4 menyeruput secangkir kopi panas sungguh pengalaman yang tak bisa dilupakan. Lewat secangkir kopi inilah meskipun baru saja bertemu pertemanan dengan komunitas jip di Gayo terasa lebih hangat.

Kami memasuki kota Takengon dengan berkonvoi bersamaan saat azan maghrib berkumandang. Bambang, salah satu penggemar 4×4 dari Takengon yang ternyata juga pengusaha kopi Gayo, mengajak mampir ke gudang dan laboratorium kopi miliknya. Usaha yang dijalankan secara kekeluargaan dan berlangsung secara turun menurun ini ternyata berkembang pesat.

Kopi Gayo sendiri merupakan kopi jenis Arabica dengan citarasa yang khas. Hebatnya lagi kopi yang diproduksi Bambang sudah merambah ke Eropa Timur dan juga Amerika. Selain kopi Gayo Blendeed ada juga kopi dari Luwak liar yang sekarang mulai ramai digemari banyak orang.

Cara menikmati kopi luwak ternyata butuh trik khusus agar lebih nikmat. Air yang digunakan harus benar-benar mendidih. Dibutuhkan alat yang bernama ekspresso (berguna untuk menyaring kopi sekaligus menurunkan kadar keasamannya) sehingga kopi tak terasa tajam di perut ketika diminum.

Sahabat Petualang : Usai beristirahat di penginapan di pinggir Danau Laut Tawar, badan terasa bugar kembali. Kami pun siap kembali mengulik dunia perkopian di kota Takengon. Menurut Bambang salah seorang pengusaha kopi di Takengon, masyarakat di kota ini tak bisa lepas dari kebun kopi. Rasanya hampir semua penduduk di kota ini memiliki kebun kopi. Minimal satu keluarga punya setengah hektar luasnya.

Di setiap pekarangan rumah penduduk, hampir tak ada yang dibiarkan terbuka tanpa ditanami kopi. Letak geogragis yang menjadi salah satu rangkaian bukit barisan tentu punya kelebihan tersendiri. Tanahnya subur dan curah hujannya juga lumayan tinggi. Karena letaknya kurang lebih 1.300 m dpl maka sangat cocok untuk menanam kopi jenis Arabica.
Makanya selain di Mandailing Natal, masyarakat Gayo - demikian penduduk Takengon biasa disebut jadi salah satu bagian sejarah penting dalam perkembangan kopi Arabica di Sumatera bahkan hingga mendunia.

Sesuai janji Bambang Wijaya Kusuma semalam ketika bersama-sama menikmati masakan Ikan Asem Njing (asem pedes), maka pagi ini kami diajak melihat langsung salah satu kebun kopi peninggalan Belanda di desa Blang Gele. Kebun kopi tua tersebut hanya seluas 15 hektar. Padahal dari sisi kualitas, biji kopi di desa Blang Gele termasuk nomer satu. Bijinya pun besar-besar dan memiliki aroma yang khas.

17d78e96ebc4a12c4848424e6ef01926_249 3dd76083a4c475806d95f14286e4fdd7_250

Letak kebun ini sendiri tak jauh dari PT Ketiara (perusahaan kopi milik ayah dan ibu Bambang). Untuk melestarikan kopi jenis ini, pengembangbiakan pun dilakukan. Hanya saja menurut Bambang ketika ditanam di daerah lain ternyata hasilnya berbeda dengan yang di Takengon. Kalau di lokasi asalnya kopi Arabica ini biarpun baru berumur setahun tapi buah yang dihasilkan sangat lebat. Sedangkan jika di tempat lain belum tentu sama.

Sebelum meninggalkan kota Takengon menuju Banda Aceh, tim 7 Wonders juga menyempatkan diri menikmati makan siang menu khas Gayo dan juga belanja souvenir khas Gayo. Rute perjalanan sama ketika kami datang dari Bireun. Hanya saja ketika sampai di Bireun kami langsung berbelok ke kiri dan mengambil arah ke Banda Aceh.

Jalanan ke Banda Aceh lumayan lebar dan mulus sehingga perjalanan bersama Terios pun menyenangkan. Kami akhirnya masuk di hotel pukul 23.30 WIB. Karena besok paginya harus menyeberang ke Sabang maka semua barang harus dipaking saat ini juga.

a33abd92e2931b9f6ac7e9765e92d971_9

FINISH!

Sahabat Petualang - Rangkaian perjalanan panjang tim Terios 7 Wonders sepanjang 3.657 km selama 15 hari berakhir di tugu “Nol” Kilometer tepat pukul 12.48 WIB (24/10). Dari sinilah pengukuran luas wilayah Indonesia dimulai. Saat ini teks lagi Dari Sabang Sampai Merauke sudah bisa kami nyanyikan. Meskipun baru dari Sabang, teks lagu Sampai Merauke-nya nanti tunggu jika Terios 7 Wonders ini selesai menjelajah Papua (Semoga bisa segera terwujud. Hehehehehe..)

ba9cfd1707fac379e930a5d2d0d18489_253 774d5061cf4b35a23ac37356c49ec11d_254

Setelah beristirahat semalam di Banda Aceh, pagi-pagi kami harus segera bergegas menuju pelabuhan ferry Ulee Lheue. Para sahabat yang juga offroader dari Banda Aceh mengingatkan jika jadwal kapal ke Sabang agak ajaib. Bisa dipercepat jika penumpangnya padat. Kebetulan perjalanan ini mendekati hari raya Idul Adha atau Lebaran Haji. Banyak penduduk Aceh yang pulang kampung. Dari Sabang ke Banda Aceh atau sebaliknya Banda Aceh ke Sabang.

Makanya atas saran dari para sahabat, meskipun jadwal kapal ke Sabang baru pukul 11.00 WIB siang kami harus antri di lokasi pelabuhan minimal dari jam 7 pagi. Oh ya kapasitas angkut kapal ferry memang tidaklah besar, maksimal 30 kendaraan. Sampai di lokasi tiba-tiba ada kabar jika kapal lambat (ferry) akan berangkat pukul 09.00 WIB. Kami pun segera bergegas. Kalau lebih cepat menyeberang tentu lebih menyenangkan. Karena kami jadi punya waktu lebih banyak berada di pulau Sabang.

Sampai di pelabuhan ferry Balohan - Sabang sekitar pukul 11 siang. Kami segera menuju kota Sabang, sahabat kami Ari Poenbit dari komunitas off-road pulau Sabang dan juga dokter Togu akan mengawal kami menuju tugu “Nol” kilometer. Tanpa menunggu waktu lama 3 Terios langsung bawa menuju tujuan akhir perjalanan panjang ini.

Akhirnya tiga unit Daihatsu Terios (2 matik dan 1 manual) berhasil kami bawa mencapai titik “Nol” kilometer di ujung pulau Weh, Provinsi Aceh Nanggroe Darussalam pada pukul 12.48 WIB. Perjalanan yang penuh pengalaman menarik selama 15 hari yang dimulai dari VLC Sunter Jakarta dengan total jarak 3.657 km berakhir sudah. Terima kasih banyak Tuhan atas berkah perlindunganMu!

Di Sabang, rombongan Terios 7 Wonders sudah ditunggu oleh para petinggi PT Astra Daihatsu Motor (ADM) antara lain, Amelia Tjandra, Rio Sanggau, Elvina Afny, Guntur Mulja dan beberapa wartawan nasional dari Jakarta yang diajak khusus menyaksikan peristiwa bersejarah ini. Anggota tim 7 Wonders yang terdiri dari Tunggul Birawa (leader), Insuhendang, Bimo S Soeryadi, Ismail Ashland, Aseri, Toni, Arizona Sudiro, Endi Supriatna, Enuh Witarsa, David Setyawan (ADM), Rokky Irvayandi (ADM) mendapat ucapan selamat dari yang hadir di tugu “Nol” Kilometer.

“Selamat! Terima kasih tim Terios 7 Wonders sudah berhasil mennyelesaikan seluruh etape perjalanan panjang ini tanpa ada kendala berarti. Terbukti Terios adalah SUV yang tangguh!” komentar Amelia Tjandra Direktur Marketing PT ADM.

d9b8ec71337349f77c4195304edf3b6c_256Seremoni singkat menandai berakhirnya ekspedisi ini dilakukan di Tugu “Nol” Kilometer. Plakat Terios 7 Wonders yang dibawa tim diserahkan oleh Tunggul Birawa selaku komandan tim kepada Amelia Tjandra. Selanjutnya plakat ini diserahkan kepada dr. Togu yang mewakili pemda Sabang. Plakat ini akan ditanam di lokasi yang memang sudah disediakan di sekitar lokasi tugu Nol Kilometer.

Sahabat Petualang - Jadwal kepulangan tim Terios 7 Wonders kebetulan memang sangat berdekatan dengan hari raya Idul Adha. Sebelum pulang dengan mengenakan pesawat udara pada sore harinya, PT ADM dan juga tim Terios 7 Wonders menyerahkan 3 ekor sapi untuk dijadikan hewan kurban. “Ini salah satu bentuk ucapan rasa syukur kami karena program Terios 7 Wonders Sumatera Coffee Paradise sudah berhasil dilaksanakan tanpa ada hambatan berarti. 3 ekor sapi ini melambangkan 3 Terios yang kami bawa dari Jakarta hingga Aceh,” komentar Rio Sanggau salah satu petinggi ADM ketika menyerahkan 3 ekor sapi pada panitia kurban di Masjid Raya - Banda Aceh.

Setelah berkumpul semua, memanfaatkan waktu sebelum menuju ke Bandara Sultan Iskandar Muda untuk pulang ke Jakarta, tim Terios 7 Wonders masih menyempatkan diri belanja sedikit souvenir khas Aceh di lokasi sekitar mesjid. Kemudian dilanjutkan mengunjungi museum PLTD Kapal Apung. Museum yang merupakan salah satu bukti kedahsyatan bencana Tsunami.

Makan siang dengan menu khas Aceh Ayam Tangkap kami nikmati menjelang sampai di Bandara Sultan Iskandar Muda. Menu Ayam Tangkap adalah ayam goreng yang dimasak berbarengan dengan beberapa macam Ada yang dipotong kecil-kecil ada pula yang dipotong agak besar. Tapi yang jelas rasanya mantappp!

Akhirnya pukul 16.35 WIB seluruh anggota tim Terios 7 Wonders terbang kembali ke Jakarta…

Sampai jumpa di petualangan seru kami selanjutnya….

Artikel ini ditulis untuk kontes blog yang diadakan oleh blogdetik dan Daihatsu Indonesia

Referensi :

http://www.daihatsu.co.id/terios7wonders/news

http://daihatsu.co.id/


TAGS Mobil Sahabat Petualang


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post